Tampilkan postingan dengan label SLIDER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SLIDER. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Hidayat Nur Wahid: Jangan Khianati Rakyat



Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta Wakil Wali Kota Salatiga Muhammad Haris menjaga amanah dan tidak menghianati rakyat. Sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera dia mengingatkan agar selalu menaati azas dan nilai-nilai moral yang telah digariskan partai.

Demikian diungkapkan Hidayat menjawab wartawan, saat dirinya berada di rumah dinas wakil wali kota Salatiga. Muhammad Haris, SS, MSi kader inti PKS terpilih sebagai wakil walikota mendampingi Yuliyanto, SE, MM yang memenangkan pilwalkot Salatiga 2011 lalu. Pasangan ini diusung oleh PKS dan PIS (Partai Indonesia Sejahtera).

Presiden PKS tahun 2000-2004 itu datang ke Salatiga guna menjadi salah satu pembicara dalam pembekalan lembaga swadaya Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) di Hotel Grand Wahid.

"Jangan pernah hianati rakyat. Kalau itu dilakukan, maka rakyat akan mendoakan yang negatif sehingga berdampak tidak baik. Menjadi pemimpin juga merupakan suatu penghormatan sehingga harus dijaga baik," tandas Hidayat, Jumat (10/2).

Menjadi pemimpin, lanjut dia, harus mengayomi semua rakyat, apapun agama, suku, dan latar belakang mereka. Tujuannya agar mampu berbuat adil dan menyejahterakan rakyat.

Seruan itu sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada Haris yang notabene satu partai dengannya, namun juga untuk seluruh pemimpin.

"Di setiap organisasi, kelompok masyarakat hingga negara, pemimpin itu ialah inti yang paling penting. Kalau ada ikan yang busuk itu bukan dari ekornya dulu melainkan dari kepalanya," lanjut Hidayat.

Atas nasihat itu, Haris mengaku tersanjung. "Sebagai kader saya senang dan tersanjung mendapat wejangan yang harus saya pahami seperti itu. Dan itu merupakan nasihat, petuah dari seorang guru."

Terkait acara PKPU diikuti sekitar 50 orang yang sebagian besar merupakan ketua atau sekretaris di masing-masing wilayah. Mereka berasal dari seluruh Indonesia. Selain Hidayat, beberapa orang menjadi pembicara dalam acara itu.

Pengungsi Banjir "GEMBOR"Tangerang Mulai Terserang ISPA


REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG - Para pengungsi korban banjir di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, dominan terkena penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan mereka berobat ke Puskesmas setempat.

"Kami mendata para pengungsi mayoritas terkena penyakit ISPA dan diare," kata Kepala Puskesmas Gembor, dr. Sonny ditemui di Periuk, Tangerang, Ahad (12/2) malam.

Dia mengatakan, sejak mengungsi di kompleks Sekolah Dasar Total Persada Raya Ahad dini hari bahwa telah warga telah memeriksakan kesehatan mereka sebanyak 29 pasien.

Pernyataan Sonny tersebut terkait para pengungsi banjir di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, terserang penyakit diare dan muntaber terutama dialami oleh anak-anak di lokasi penampungan sekolah dasar setempat.

Menurut Sonny bahwa selain ISPA dan diare warga di lokasi pengungsian menderita penyakit influenza dan ada juga yang muntaber. Bahkan seorang pengungsi terpaksa dilarikan ke RS Sari Asih karena mengalami strok akibat di Puskesmas setempat tidak memiliki peralatan medis yang memadai untuk perawatan pasien tersebut.

Hasil Rakornas : PKS fokus untuk mengangkat martabat para buruh, petani, nelayan serta pengusaha kecil



BANDUNG - Tahun ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Zona Jawa Barat akan membidik masyarakat kecil sebagai sasaran strategisnya. Hal ini menjadi salah satu program unggulan PKS untuk memenangkan Pemilu Legislatif 2014 mendatang.

Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengatakan, Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar di Bandung selama tiga hari (3—5 Februari) telah menghasilkan sejumlah agenda. Salah satunya adalah melakukan gerakan nasional untuk mengangkat martabat para buruh, petani, nelayan serta pengusaha kecil dan menengah di tiap-tiap daerah.

Menurut Luthfi, masyarakat kecil ini perlu diperjuangkan agar tidak diombang-ambing oleh berbagai peraturan atau kebijakan yang tidak memihak pada mereka.

“Harapan kami, mereka bisa mencapai kemandirian secara ekonomi,” tutur Luthfi di sela-sela acara penutupan Rakornas PKS di Lapangan Tegallega Bandung, Ahad (5/2).

Di samping itu, partainya juga akan melakukan gerakan nasional membangun soliditas masyarakat, terutama di Jawa Barat. Dia berpendapat, berbagai kasus dan konflik sosial yang terjadi selama ini dikarenakan renggangnya hubungan antarmasyarakat.

Ketidakpedulian terhadap sesama warga dan bangsa Indonesia disebutnya akan mengganggu kerukunan. Selanjutnya, hal tersebut akan mengganggu keutuhan bangsa, seperti gerakan separatisme yang terjadi di Papua misalnya.

“Oleh sebab itu, karakter kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan untuk menuntaskan persoalan ini,” imbuh dia.

Program strategis yang dirumuskan melalui Rakornas tersebut, terang Luthfi, hanya berlaku untuk tahun ini saja. Dengan kata lain, untuk memenangkan Pemilu 2014, partainya harus membuat program baru setiap tahunnya.

Kisah Perjalanan Spiritual Ustadz PKS Mendapat 'Wahyu'



Al-kisah, ada seorang Ustadz muda, alumni Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta telah berhasil menyelesaikan S1-nya di LIPIA Jakarta. Beliau ini “putra mahkota” yang digadang-gadang bisa menjadi ulama penerus dakwah Muhammadiyah di kampung asalnya, di pinggiran Kota Surabaya. Beliau terlahir dari keluarga berada yang memiliki berbagai usaha tambak dan rumah kost-kostan mahasiswa dan mahasiswi warna-warni dari berbagai daerah.

Entah mengapa, selepas lulus LIPIA, Ustadz yang diduga keras (sekali lagi diduga keras....) keturunan “Sunan Ampel” ini belum berkenan pulang kampung. Beliau malah senang menetap di rumah kakaknya di Warungboto sambil masih terus mendalami ilmu agama dan berguru pada Ustadz Engkong Jogja. Padahal Emak dan keluarganya telah menyediakan rumah tersendiri di sebuah komplek masjid yang dikelilingi kost-kostan mahasiswa sehingga mirip kompleks pesantren di Surabaya. Orangtua sang Ustadz muda itu pun sudah berkali-kali memintanya pulang kampung untuk menjadi Ustadz di Surabaya dan sangat pengin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu.

Demi menanggapi permintaan orang tuanya untuk pulang kampung ke Surabaya, sang ustadz muda ini memiliki banyak “alibi” alias alasan logis bertubi-tubi, satu di antaranya masih ingin melanjutkan studi S2-nya di Jogyakarta. Untuk permasalahan yang satu ini, Alhamdulillah, orang tua dan saudara-saudaranya dapat memaklumi dengan lapang dada dan bahkan siap mendukung dana selebar-lebarnya.

Sedang, untuk menanggapi permintaan kedua, “ingin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu”, sang ustadz muda ini ceritanya bingung nggak karuan..., ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, beliau tak menemukan alasan yang kuat untuk menolaknya. Akhirnya, “theklek digawe dodolan burjo, tinimbang selak tuwek nggak dang oleh bojo” (theklek dipakai jualan burjo, dari pada tuwek/tua tak segera mendapat pasangan hidup), sang ustadz muda itu akhirnya bertekuk lutut dan menyerah.

Makanya, demi mengikuti sunnah Nabi dan birrul walidain, dengan bismillah, beliau menyerahkan biodatanya ke “BKKBS” (“Biro Kosultasi Keluarga Bahagia Sejahtera”) yang waktu itu masih menapaki fase sirriyah.

Sambil menanti biodata jawaban dari BKKBS sirriyah, Sang Ustadz muda ini pun melakoni amal spiritual secara inten. Beliau sering berpuasa (jika tidak ada acara kuliner), bermunajat panjang di tengah malam serta tak lupa sholat istikharah dan berdoa dengan sangat serius. Hampir tiada satu malam pun berlalu tanpa beliau munajat dan istikharah (nek nggak ketiduran lho....). Akhirnya, Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa-doanya. Suatu hari melalui murobbinya, Sang Ustadz muda ini mendapat biodata akhwat qowwi, Sarjana Farmasi, calon Apoteker lengkap dengan foto dirinya....


Hati Ustadz muda itu
jadi mekroh berbunga-bunga
Hati Sang ustadz muda ini jadi mekrok berbunga-bunga, seakan rembulan purnama jatuh bersinar cemerlang di pangkuannya. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal dan ini menyebabkan beliau agak “bimbang”. Ternyata, foto diri si akhwat tersebut foto ketika masih sekolah di SMP atau SMA. Jadi, kelihatan ijih cuuilik tenan. He he he. Piye to iki? Usut punya usut akhirnya, ada permohonan maaf dari sang murobbiyah akhwatnya. Foto itu sebenarnya sebuah langkah keterpaksaan, mengingat di jaman awalu tarbiyah, agar seorang murobbiyah mendapatkan foto diri dari akhwat binaannya itu sangat sulit. Mungkin waktu itu, apa-apa serba sirriyah, sehingga para akhwat sangat hati-hati dan primpen menyimpan foto dirinya.

Mengingat-ingat dan menimbang-nimbang akan menjadi garwo alias sigaraning nyawa (belahan jiwa alias pasangan hidup), calon istri memang harus ditimbang-timbang secara jeli. Untuk mengverifikasi calon istrinya itu tidak cukup hanya via biodata, Ustadz muda itu mencoba mengkonsultasikannya pada beberapa ustadz yang ia tsiqohi. Pun pula kepada teman-teman seliqo yang sekira mengetahui track record sang akhwat tersebut. Semuanya pada intinya mendukung calon berbobot yang diajukan oleh ummahat “BKKBS Sirriyah” itu.

Tak ketinggalan, Mas Sunan Kalicode yang waktu itu belum jadi sunan, masih baru saja melepas jabatannya sebagai Presiden Bujang Distrik Jogyakarta. “O, Allah Cak Ruf...., foto SMA tak masalah lah, yang penting kan sosoknya yang sekarang. Sudahlah Cak Ruf..., terima sajalah. Saya ikut jadi saksi sejak di Shalahuddin, beliau termasuk akhwat pelopor; cocok menjadi pendamping hidup seorang ustadz. Beliau juga pernah jadi juara pertama pengirim riset pembaca Seri Bacaan Muslimah, Ash-Sholihah tercepat lho....,” katanya untuk menambah rekomendasi kemantaban hati Sang Ustadz muda itu.

Atas dukungan semua ikhwah dan atas istikharah mendalam di malam-malam yang tenang, maka dengan bismillah, Sang Ustadz muda itu akhirnya mantab menerima akhwat tersebut. Tapi tidaklah lengkap bila belum dikonsultasikan kepada Emak dan cacak-cacaknya di Surabaya, maka pulanglah beliau ke Surabaya. Di hadapan sidang keluarga Surabaya, sang ustadz muda itu dengan mantab menceritakan bahwa dirinya sudah dapat calon istri yang aduhai. Tak lupa Beliau uraikan biodatanya dengan komplit-plit.

Ternyata, bagi keluarga besar Surabaya, biodata itu tidak penting, “Sing penting fotone calon mantuku endi Ruf....,” kata Emaknya. Agak ragu-ragu sang ustadz muda itu mununjukkan foto diri si calon mantu.... Saking penasarannya semua kakaknya yang lagi kumpul langsung ikut nimbung nonton bersama foto diri sang calon adik.

“O Allah, yok opo to Rek... Rek.... bocah ijih cuilik ngene koq arep mbok nikahi ki piye to Ruf? Opo ning Jogja ra onok cah wedhok sing wis gedhe po?" Komentar spontan cacak-cacaknya begitu lihat foto calon adiknya. Pokoknya, Surabaya waktu itu jadi geger. Bumi seakan bergoncang-goncang, langit seolah berkilat menjilat-jilat.

Tapi, Alhamdulillah itu terjadi hanya sebentar. Setelah dijelaskan dengan mantab oleh Sang ustadz bahwa itu foto ketika dia masih SMA. “Saiki bocahye yo wis gedhe, lha wong wis lulus Farmasi UGM je. Kabare saiki malah pitung puluh kali luwih uaaayu timbangane foto SMA-ne disik.... he he he...,” jelas sang ustadz muda yang ternyata sudah jatuh cinta sejak memandang biodatanya yang pertama itu. :D

Singkatnya, keluarga Surabaya akhirnya bisa diyakinkan dan setuju proses perjodohan itu ditindaklanjuti. Keluarga sang akhwat di Magelang yang masih memiliki ikatan darah keturunan HB VII itu pun akhirnya juga menyetujuinya. Gayung bersambut, di hari yang telah disepakati khitbah terjadi. Aqad nikah dan walimah pun telah ditentukan harinya.

Maka sejak aqad nikah diikrarkan, ustadz muda PKS yang bernama Ma`ruf Amary, Lc ini resmi mendapatkan “wahyu” dari Allah, lengkapnya mendapat “Wahyu Tusi Wardhani, S.Si.,Apt.” sebagai isterinya.

Jadi, begitulah kisah nyata perjalanan spiritual Ustadz Ma`ruf Amary mendapat wahyu, Wahyu Tusi Wardhani. Kini istrinya itu lebih dikenal dengan pangilan Bu Tusi, seorang apoteker, ustadzah penggerak dan pembina GEMI, Gerakan Ekonomi Masyarakat Islami di sepanjang bantaran Kali Gadjah Wong, Kota Yogyakarta.

Kini, ustadz yang pernah menjabat Ketua Dewan Syari'ah DPW PKS D.I. Yogyakarta ini hidup berbahagia bersama istri dan dua putri cantiknya di rumahnya: Warungboto UH IV/837, Umbulharjo, Yogyakarta. Saking bahagianya, kayaknya beliau sudah tidak ingat lagi biodata dan foto diri Bu Tusi di masa SMA itu. []

Oleh Sunan Kalicode
(aka Mohammad Ilyas Sunnah)

Fenomena "Komunitas PKS" yang tak ada di partai lain




Suka atau tidak suka, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menjadi sebuah fenomena. PKS telah membuktikan diri sebagai parpol yang solid, hidup, dan kuat. PKS tampaknya bukanlah parpol biasa yang konvensional. PKS adalah parpol dengan genre baru yang unik yang telah menjadi semacam komunitas.

Apa yang disebut dengan "komunitas PKS" itu ada dan nyata. Salah satu karakteristik dari partai dengan genre ini adalah apa kata partai, itulah kata anggotanya! Sementara dalam parpol lain, apa kata partai tidak selalu paralel dengan apa kata anggota. Padahal paralelisme seperti itu sangatlah sentral dan signifikan dalam sebuah partai politik.

Paralelisme ini bukan hanya menunjukkan soliditas dan solidaritas internal partai, tetapi juga merefleksikan adanya saling kepercayaan (mutual trust) antara anggota dan pimpinan yang juga menunjukkan berjalannya mesin politik sebuah partai. Manakala mesin politik tidak berjalan, sejatinya partai politik tersebut telah kehilangan raison d'etre-nya.

Tan Malaka dalam bukunya Aksi Maksa (1926) menegaskan bahwa "keputusan yang setengah betul tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan anggota lebih baik daripada keputusan yang bagus sekali tetapi dikhianati oleh setengah anggota".

Frase 'dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan anggota' ini penting karena perasaan gembira inilah yang menjadi roh partai. Seluruh barisan anggota bersedia bekerja menjalankan keputusan partai dengan gembira-meski keputusannya hanya setengah betul-,ini menunjukkan mesin politik dalam partai tersebut berjalan. Inilah yang disebut dengan partai politik yang sebenarnya alias partai politik par excellence!

Sangat sedikit

Di Indonesia sangatlah sedikit parpol yang organisasinya hidup, solid, dan kuat seperti itu. Di antara yang sedikit itu,demikian menurut banyak studi, adalah-jangan terkejut-Partai Komunis Indonesia (PKI). Antonie CA Dake dalam In The Spirit of The Red Banteng: Indonesian Communists Between Moscow and Peking (2002) menggambarkan betapa hidup dan dinamisnya PKI di bawah kepemimpinan Aidit.

Di samping berhasil menghela partai keluar dari isolasi politik, Aidit menerapkan disiplin partai serta membuka diri dengan menggandeng aliansi dengan kalangan borjuis nasional. Begitu pula, "The party was to increase its membership in six months from around 7,000 to 100,000. At the same time, a multitude of mass organizations were to be created or revamped, encompassing not only workers and peasents but also youth, women, poor people,ex-servicemen, and others."

Sementara Tempo (7 Oktober 2007) melukiskan dengan sangat baik sebagai berikut, "Kantor PKI adalah markas yang hidup dan bergerak. Organisasi tak hanya mengurus program partai tapi juga tetek bengek lainnya seperti anggota yang meninggal dan melahirkan".

PKI tak hanya menjadi organisasi politik tapi juga menjadi komunitas. Ketika kantor pusat PKI dibangun di Jalan Kramat Raya, Jakarta, sebagian besar dananya diperoleh dari sumbangan anggota yang pengelolaannya dilaporkan secara transparan. Koran Harian Rakjat digenjot oplahnya hingga mencapai 60 ribu eksemplar--jumlah yang fantastis untuk zaman itu!"

Kini PKS

Tetapi benarkah hanya PKI yang berhasil membangun partai politik yang solid, hidup, dan dinamis seperti itu? Dake dan Tempo harus melakukan koreksi atas teorinya itu atau setidaknya menoleh ke PKS.

Pasalnya, kini telah muncul partai seperti itu, yaitu PKS! Meski secara ideologi dan cita-cita berbeda secara diametral, PKS seperti halnya PKI memiliki mesin organisasi yang hidup, kuat, dan dinamis. Rapat-rapat massa dan rally PKS yang selalu rapi dan disiplin menambah bukti hidupnya partai ini. PKS mengurus anggotanya dan karena itu anggotanya juga menjalankan keputusan partainya, termasuk membayar iuran karena merasakan manfaat dari kehadiran partainya.

Partai bukan hanya menguntungkan dan menjadi alat bagi elitenya, melainkan juga bagi anggotanya dan cita-citanya. Di PKS, presiden partai harus berkonsentrasi penuh untuk mengurus partai dengan segala tetek bengeknya. Ada konvensi yang unik dan menarik di PKS: jika presiden partai terpilih menduduki jabatan publik, dia harus melepaskan jabatannya di partai.

Walhasil, dengan tradisi ini, orang yang bersangkutan bukan hanya tidak dihadapkan pada situasi dilematis karena konflik kepentingan akibat perangkapan jabatan, melainkan juga waktu, energi, dan pikirannya tercurah untuk partai atau jabatan politik yang dipegangnya. Sementara partai-partai politik lain justru punya kelaziman yang sebaliknya: memilih orang yang sedang menduduki jabatan publik (berkuasa) untuk menjadi ketua.

Di sisi lain, untuk mengamankan jabatan publik yang sudah diraihnya (menteri, gubernur, bupati, dan lain-lain), orang tersebut justru semakin memperkuat cengkeramannya dalam partainya. Rupanya ada psikologi ketakutan dalam diri orang-orang ini bahwa jika posisinya di partai lepas akan membahayakan jabatan politiknya itu.

Walhasil, alih-alih membangun partai menjadi kuat, mereka justru memperalat partai! Dalam suasana kepartaian yang seperti itulah PKS dengan spirit yang merona menyeruak ke depan dalam pentas politik nasional. Primus inter minus malum! (*)

Oleh: Hajriyanto Y Thohari
Pengamat Kenegaraan dan Keagamaan


OASE

SYARIAH

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan