Tampilkan postingan dengan label TAUJIHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUJIHAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Antara Saham Dakwah, Mahar Terhutang, dan Gaji Suami



Islamedia - Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. (Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah)

Ada satu pelajaran berharga untuk setiap ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang terjadi di masa Syaikh Abdul Qadir al Jilani. Sebagaimana telah masyhur diketahui, beliau adalah salah seorang ulama kharismatik ahli thariqah sunniyah yang terkenal dengan karamahnya. Sampai-sampai Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, ulama besar madzhab Syafi’i, mengatakan: “Tidak pernah kita mendengar karamah seseorang secara mutawatir kecuali karamah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.”

Begini kisahnya. Sepeninggal gurunya, Syaikh Abdul Qadir berniat memperluas dan membangun ulang madrasah peninggalan sang guru. Maka umat pun menyambut antusias keinginan beliau sehingga orang-orang kaya lantas menyumbangkan hartanya untuk pembangunan madrasah. Orang-orang faqir juga tak ingin kehilangan kesempatan beramal dengan mencurahkan tenaganya. Para pengikut syaikh Abdul Qadir benar-benar menunjukan pengorbanan dalam perjuangan dakwah sang syaikh.

Satu diantara pengikut Syaikh Abdul Qadir adalah seorang wanita faqir, isteri dari seorang faqir pula. Tak ada lagi yang dapat ia sumbangkan untuk pembangunan madrasah karena kefaqirannya. Bahkan saat itu maharnya pun masih terhutang, belum dibayar oleh suaminya. Tapi tunggu dulu, ini adalah kesempatan langka. Semua tak boleh ketinggalan untuk ikut andil dan menanam saham dakwah dalam amal jariyah madrasah Syaikh Abdul Qadir.

Datanglah ia bersama sang suami ke hadapan sang Syaikh, sambil berujar: “Ini adalah suamiku. Aku memiliki piutang mahar padanya sebesar dua puluh dinar emas. Sungguh aku telah merelakan separuhnya kuberikan untuk suamiku, namun dengan syarat dia bekerja di madrasah anda dengan separuh sisanya piutang mahar itu sebagai gajinya”

Subhanallah. Allahu Akbar.

Maka Syaikh Abdul Qadir pun menerima perjanjian antara suami-isteri itu. Beliau pun mempekerjakan sang suami di madrasahnya. Syaikh Abdul Qadir tahu persis bahwa laki-laki itu faqir tak berpunya. Atas dasar itulah diam-diam beliau mempekerjakan laki-laki faqir itu sehari tanpa gaji, dan sehari lain dengan gaji. Sehari tanpa gaji sebagai bentuk penerimaan beliau atas sumbangsih sang isteri. Sehari lain dengan gaji disebabkan kefaqiran mereka berdua. Begitu selang-seling. Suatu saat, setelah laki-laki itu menyelesaikan masa kerja seukuran gaji sepuluh dinar, Syaikh Abdul Qadir berbicara padanya. Sambil mengeluarkan perjanjian beliau memberinya lima dinar dan mengatakan: “Engkau telah lunas dengan sisa maharmu.”

Alhamdulillah.

Ikhwah Fillah, begitulah cinta. Sekarang, sudah adakah andil kita dalam dakwah? Sudahkah kita berperan? Siapa yang harus bertanggung jawab dengan pendidikan agama remaja dan anak-anak masjid di sekitar kita? Kalau bukan kita, lantas siapa?

Adakah cinta tanpa pengorbanan?



Riza Zakariya

Panggilan Bilal untuk PKS



Islamedia - Bagi kami kader partai dakwah, pks, shalat berjamaah di Masjid, adalah identitas diri, begitulah para tetangga, masyarakat mengenal kami. dan begitu jugalah cara bangunan bangunan Rumah Allah itu mengenali kami. identitas yang tidak pernah kami pilih sebagai identitas kader, melainkan identitas yang secara alamiah dilekatkan masyarakat kepada kami. identitas itu adalah identitas milik Ummat Islam semuanya.

Bagi kami, kader pks, shalat berjamaah di masjid adalah waktunya kami menjumpai saudara saudara kami, menyambung lagi silaturahim, dan memperkuat rasa dengan dengan para tetangga, dari golongan manapun, dari partai apapun. lima kali sehari, sesering itulah kami diperintahkan menemui saudara saudara kami, menatap wajah wajah cahaya itu, pak marbot, pak imam.. dan menyerap sebanyak mungkin semangat dari wajah wajah cahaya tadi.

Bagi kami, kader pks, Shalat berjamaah di masjid adalah kewajiban harga mati dari Allah, yang kemudian menjadi tugas struktural partai. yang setiap pekan selalu di evaluasi konsistensinya. dan disana, dalam kelompok pengajian pekanan tersebut, hadirlah budaya malu, sebelum malu itu disajikan dalam sidang hari akhirat. kami evaluasi dulu disini.

Panggilan bilal, adalah panggilan Allah. bukan panggilan Polisi, atau Presiden. maka kami, kader pks selalu diingatkan untuk mengindahkan panggilan itu, dimanapun kami berada, sedang apapun kami. Allah menyukai hambanya yang mengambil keringanan, tapi dalam koridor syar'i, perjalanan tak menghalangi kami mengunjungi rumah rumah Allah yang tersebar, ada dimana mana itu. menembus gerimis adalah kenikmatan bagi kami, deras sekalipun, telah lama kami mengenal payung. karena saat hujan itulah, dan di rumah Allah lah, kami mendapatkan posisi paling kuat daya tawarnya, untuk kami mengajukan harapan padaNya.

Dan bagi kami kader pks, masjid adalah tempat kami meminta kemenangan, menyusun proposal kemenangan dakwah. disanalah harapan harapan kami menemukan pintu terdekatnya.

Bagi kami, kader pks, shalat wajib di rumah itu, jauh lebih berat ketimbang melangkahkan kaki kami ke masjid. shalat di tengah atau akhir waktu itu memerlukan energi jauh lebih besar dari pada ketika kami, tinggal datang ke masjid. karena disana semangat semangat jama'ahnya bersinergi membentuk kehusyukannya sendiri. semangat menjadi yang paling disiplin dimata Allah..

Dan kami tidak ingin semudah itu digolongkan sebagai orang orang munafik, hanya karena kami tertinggal Isya dimasjid, atau shubuh..
na'udzubillah, kami bukan termasuk golongan orang orang munafik.
kami bisa bayangkan bagaimana muaknya Hudzaifah ibnu Yaman, ketika Rasulullah membisikinya, daftar orang orang munafik itu.

Dan karena shalat berjamaah di masjid ini adalah identitas yang sudah dihadiahkan oleh masyarakat pada kami, kader pks. maka tak peduli sedang bagaimana kondisi hati kami, kami akan menjaga amanah identitas itu. sebagai modal paling utama buat kami untuk mengajak seluruh tetangga kami untuk memenuhi rumah rumah Allah tersebut.

Dan pada akhirnya, Masjidlah, tempat kami melepas lelah aktifitas dakwah kami. mengisi lagi energi raga kami yang terbatas ini. dengan energi ruhiyah. menata hati kami biar selalu terjaga keikhlasan kami memwujudkan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. merebut kemenangan kemenangan dakwah, untuk membuka sebesar besarnya kemanfaatan, perbaikan, keadilan dan kesejahteraan.

Dan pak guru mengajak: "anak anak, ayo ke masjid"
para pelajar mengajak: "teman teman ayo ke masjid"
buruh bersuara: "rekan rekan, kita rehat shalat Dzuhur dulu di masjid"
pedagang, pns dan seterusnya...

Selasa, 28 Februari 2012

Cara Cepat Membubarkan Halaqah


Berikut ini adalah tiga cara cepat membubarkan halaqah yang disampaikan oleh ustadz Farid Dhofir, Ketua Bidang Kaderisasi DPW PKS Jawa Timur. Jika ketiga hal berikut dilakukan oleh murabbi, dalam waktu yang tidak lama kemudian, dijamin halaqah (khususnya halaqah awal) yang dipegangnya akan bubar.

Datang Terlambat

Menunggu adalah hal yang menjemukan bagi banyak orang, termasuk mutarabbi baru. Apalagi jika menunggu kedatangan murabbi yang tidak jelas apakah ia datang atau tidak, jadi halaqah atau tidak. Semakin lama murabbi terlambat, detik demi detik terasa semakin lama, mencemaskan sekaligus menjemukan.

Pada menit ke-25 dari keterlambatan murabbi setengah jam, mungkin mutarabbi sudah memutuskan untuk pulang dan berjanji pekan berikutnya takkan kembali. Atau mungkin mutarabbi bertahan menunggu, namun sudah ada catatan di benaknya: "orang seperti ini tak layak jadi murabbi. Ia tak menghargai waktu, apa mungkin ia bisa menghargai hal-hal lainnya. Halaqah mungkin masih berjalan, namun ruhnya jadi hilang; tak ada kepercayaan. Akhirnya pun bernasib sama: bubar.

Tanpa Persiapan

Yakni murabbi datang ke halaqah tanpa mempersiapkan materi/madah yang akan disampaikan. Ia hanya datang namun tidak membawa bekal. Materi yang disampaikan seingatnya saja, sama sekali tak berpedoman manhaj. Sudah begitu ia pun tak menguasai apa yang ia sampaikan, jadilah ia gado-gado ngalor ngidul tak karuan.

Materi yang kacau itu ditangkap mutarabbi. Ketidaksiapan itu tampak jelas di hadapan mutarabbi. Maka halaqah yang baru itu langsung memperoleh kesimpulan: "tak banyak manfaatnya berlama-lama di forum ini, lebih baik baca buku sendiri." Lalu bubarlah halaqah itu tak lama lagi.

Sibuk dengan HP

Jika murabbi tidak mematikan hp, tidak juga men-silent-nya, lalu beberapa kali halaqah yang baru itu terganggu nada dering, percakapan murabbi lewat hp-nya, tangannya disibukkan dengan sms, BBM, dan sejenisnya, mutarabbi yang merasa tidak diperhatikan cenderung tak lama bertahan. Lalu nasib halaqah pun wassalam.

Semakin lengkap ketiga poin ini dilakukan murabbi, semakin cepat halaqah itu bubar. Maka jika antum tak ingin halaqah cepat bubar, hindari ketiga hal tersebut. []

Kamis, 23 Februari 2012

5 Sebab Melemahnya Iman Aktifis Dakwah


Kelemahan yang paling lemah dan melemahkan seorang muslim adalah lemah iman. Dengan mengetahui sebabnya, diharapkan kita mampu mengatasinya, sehingga iman kita semakin kuat dan kokoh.

Berikut ini 5 sebab kelemahan iman, khususnya pada aktifis dakwah :

Tenggelam dalam Kesibukan Duniawi
Tak seorang pun yang luput dari urusan dunia, termasuk seorang dai. Bahkan Al-Qur’an sendiri mengingatkan kita agar mencari akhirat tanpa melupakan dunia. Namun, ketika kesibukan dunia yang menguasai jiwa, ketika seseorang tenggelam dalam kesibukan duniawi, maka iman akan melemah segera.

”Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka ampunilah kami.”

Lalai terhadap Faktor Penguat Iman
Lalai dalam mengetahui faktor-faktor yang dapat menguatkan dan meningkatkan iman kepada Allah adalah sebab melemahnya iman. Yakni ketika seseorang tidak memahami dan mengamalkan bahwa ibadah, dzikir, dan kebajikan itulah penguat iman. Saat seseorang menambah kebaikan, sejatinya ia meningkatkan iman. Sebaliknya, siapa yang memilih malas-malasan dari beramal kebajikan, pada saat yang sama ia telah membuat imannya lemah.

Sebagian sahabat berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan zikir kepada-Nya, ia berkurang dengan kemaksiatan dan lupa kepada-Nya.”

Menumpuknya Aktifitas dan Beban yang Membuat Ruh dan Jiwa Kehilangan Haknya
Aktifitas yang padat dan beban kerja yang menumpuk -termasuk aktifitas politik dan kerja-kerja sosial- jika tidak dimenej dengan baik akan berakibat pada melemahnya iman. Mengapa? Karena padatnya aktifitas dan menumpuknya beban kerja bisa menjadikan seseorang mengabaikan hak-hak ruh dan jiwanya. Ketika hak-hak ruhiyah itu tak dipenuhi, kegersangan jiwa terasa. Hilangnya sikap bijaksana, pudarnya ketenangan dan kedamaian, dan sempitnya dada adalah indikasi melemahnya iman akibat hak ruh yang tak tertunaikan ini.

Mengejar Target Dakwah, Melupakan Penguat Iman
Ada sebagian aktifis yang sangat bersemangat dalam aktifitas dakwah untuk mengejar target-target kuantitas, namun ia lupa faktor-faktor yang dapat meningkatkan iman. Ia menyeru orang lain, namun meninggalkan dirinya sendiri. Merasa kesibukan sebagai aktifis dan pekerjaan dakwah sudah cukup menjamin menguatnya iman.

Aktifitas dan Peran yang Tak Seimbang
Seorang Muslim, khususnya seorang dai, pasti memiliki lebih dari satu peran dalam hidupnya. Ada peran keluarga sebagai suami (bagi yang sudah menikah), ayah (bagi yang telah memiliki anak), anak (khususnya bagi aktifis muda yang belum menikah), karyawan atau pimpinan di tempat kerja, anggota masyarakat di lingkungannya, organisatoris dan aktifis di organisasinya yang kadang-kadang lebih dari dua, dan seterusnya.

Ketika aktifitas hanya difokuskan pada satu peran, sementara pada banyak peran yang lain ia abai kemudian gagal, maka iman bisa melemah karena ia akan tersibukkan dengan banyak lubang masalah yang ia gali sendiri. Aktifitas yang seimbang, pemenuhan semua peran dengan seimbang lebih menjamin seorang aktifis dakwah untuk tidak hanya imannya tak terganggu dari arah itu, namun juga membuatnya menjadi lebih ideal. []

Tsiqah Terus Taat dalam Berjamaah



Islamedia - Melihat apa yang terjadi di masa kejayaan islam dan masa kini, kita bisa melihat bahwa ketsiqahan dan ketaatan kepada qiyadah merupakan hal yang mendasar dalam dakwah ini. Tanpa hal ini, dakwah bisa dikatakan tidak ada.Apa defines tsiqah, taat dan qiyadah itu?

Mari kita mulai dengan pembahasan tentang qiyadah itu apa. Qiyadah berasal dari kata qaada-yaqudu-qiyadatan artinya menuntun atau memimpin.Dalam literature istilah kepemimpinan meliputi: imam, khalifah, amir, walidanshultan, ketuakelas, ketua rohis, mas’ul, pemimpin hizb juga qiyadah kita .Apapun sebutannya maknanya adalah satu, yaitu yang memerintah dengan syari’at Allah dan sunnah Nabi-Nya. Jabatan tersebut adalah merupakan pengganti nabi Muhammad SAW dengan tugas melaksanakan dan menegakkan agama serta menjalankan kepemimpinan Islam. Pemimpin (qiyadah) dalam satu jamaah ibarat kepala bagi tubuh, lambing kekuatan, persatuan, keutuhan dan disiplin shaff. Kedudukan pemimpin tidak boleh jadi rebutan dan pelampiasan ambisi pribadi sebab kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Tsiqah, Imam Hasan Al Banna menjelaskan bahwa makna tsiqah adalah ketenangan jundi terhadap qiyadahnya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin cinta, menghargai, menghormati serta taat. Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65).

Sementara taat, Imam Hasan Al Banna menjelaskan dalam Risalah Ta’lim menjelaskan bahwa ta’at yang dimaksud adalah bahwa anggota jama’ah(jundi) menaati perintah dan melaksanakannya.

Nah kalau kita udah tahu pengertian semua diatas, kita masuk ke bahasan selanjutnya yuk, yaitu tentang pentingnya dua hal diatas dalam jama’ah.

Kita mungkin sama-sama sudah tahu bahwa dua hal diatas adalah salah dua dari rukun bai’at. Yang namanya rukun, kalau ditinggalkan pastinya membuat sesuatu itu tidak sah atau tidak diterima. Begitu juga dengan tsiqah dan taat, kalau ditinggalkan berarti jama’ah itu tidak akan ada. Kalaupun ada, pasti jama’ah itu hanya nama saja, tidak ada kesamaan visi, misi dan obsesinya. Jama’ah bohongan namanya, yang didalamnya pasti dipenuhi oleh obsesi pribadi para anggotanya.

Tsiqah, baik jundi kepada qiyadah ataupun qiyadah kepada jundinya, sangat penting. Si qiyadah yang percaya bahwa jundinya mempunyai kemampuan yang cukup untuk melaksanakan semua seruan jama’ah dan percaya bahwa jundinya akan mendukung penuh perjuangan dakwah ini. Si jundi yang percaya dengan kemampuan qiyadahnya dan percaya bahwa apa yang diperintahkan, dinyatakan, dilakukan oleh qiyadahnya itu benar adanya, sesuai dengan syari’at islam dan pastinya itulah langkah terbaik yang ditempuh dan diambil.

Ketika ketsiqahan sudah tertanam dalam hati masing-masing, maka ini bisa menjadi sebab musabab munculnya keta’atan. Ketika si jundi sudah percaya kepada sang qiyadah, maka apapun yang diperintahkan akan dilaksanakannya dengan penuh keta’atan. Ini bukanlah tanda ada system kasta dalam islam, tapi keta’atan mereka itu hanya dipersembahan untuk Allah semata. Itu hanyalah salah satu jalan menuju kehormatan sejati.

Banyak kisah dari pendahulu kita yang memberikan penguatan tentang memang sangat besar pengaruh tsiqah dan ta’at dalam jama’ah. Apabila keduanya itu ditunaikan, maka akan mendatangkan kemaslahatan yang besar. Sementara apabila keduanya itu diabaikan, maka bisa mendatangkan kamadhorotan yang besar pula. Langsung aja ke kisahnya gan..

Masih ingat kisah perang Uhud kan? Perang yang terjadi di lembah Uhud itu bisa dikatakan bahwa umat muslim kala itu kalah perang. Banyak sekali sahabat yang shahid di perang ini. Abu Dujanah, Mush’ab bin Umair, Abu Thalhah dan Ziyad bin Sakan, mereka meninggalkan dunia ini untuk menyambut kehidupan kekal di akherat. Tidak hanya para sahabat ssaja yang banyak gugur, pada perang ini Rasulullah juga terluka cukup parah. Sampai sempat diberitakan bahwa Rasulullah telah meninggal. Namun apasih penyebabnya yang membuat kakalahan umat muslim ini.

Tanpa melupakan banyak hikmah dari kakalahan di lembah Uhud ini, ada satu kejadian yang bisa dikatakan menjadi sebab kekalahan Umat muslim. Ya, sebenarnya umat muslim pada awalnya memenangkan peperangan ini. Strategi yang disusun oleh panglima besar Rasulullah berhasil memukul mundur 3000 tentara musuh dengan sangat cepat. Kemenanganpun serasa sudah di depan mata. Pasukan pemanah yang dari awal ditempatkan oleh Rasul diatas bukit yang terletak di belakang kaum muslimin itu melupakan pesan Rasulullah. “Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil memukul mundur dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu.”

Pasukan pemanah itu melanggar pesan itu, ketika pasukan muslim memukul mundur musuh, mereka malah turun ke lembah untuk membantu mengumpulkan ghanimah. Mereka tidak menghiraukan nasehat dari Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin mereka. Melihat pasukan pemanah yang turun, kaum musyrikin pun balik menyerang lagi dipimpin oleh Khalid bin Walid dan diikuti oleh Ikrimah. Akhirnya pasukan pemanah yang tersisa pun syahid dan kekalahan lumayan telak didapat musuh.

Lain halnya dengan perang Uhud yang mengisahkan tentang akibat besar yang di dapat karena ketidaktaatan kepada pemimpin, kisah dibawah ini akan menunjukan hal sebaliknya, kemenangan besar akibat ketaatan kepada pemimpin. Let’s see.

Kisah ini terjadi ketika peperangan antara Afghanistan dan Rusia. Ketika itu pemimpin Afghanistan memerintahkan kapada satu kompi pasukan untuk berjaga di pintu masuk perbatasan antara Afghanistan dan Rusia. Pemimpin itu memilih seorang panglima untuk memimpin pasukan. Pemimpin pun berpesan kepada pasukannya itu, “ Seranglah setiap tentara Rusia yang berusaha masuk ke wilayah Afghanistan, jangan satupun dari mereka menginjakkan kakinya di tanah ini. Tapi yang lebih penting adalah taatilah panglimamu.”

Pasukan itu pun pergi ke perbatasan itu. Lama mereka menunggu di perbatasan itu, pasukan Rusia tidak juga muncul. Sampai ada mobil Rusia yang melewati perbatasan itu. Mereka siap menyerang tapi belum juga mendapat kode dari panglimanya untuk menyerang. Mereka bertanya-tanya dalam hati mereka, mengapa panglimanya itu tidak mengisyaratkan untuk menyerang. Padahal mereka bisa membunuh tentara Rusia itu sesuai perintah Pemimpin Afghanistan. Mereka akhirnya tidak tidak menyerang sampai mobil itu tidak terlihat lagi karena mereka teringat amanah untuk menaati panglimanya itu.

Dan tidak lama setelah itu, mobil Rusia itu balik lagi. Mereka kini lebih siap untuk menyerang tentara rusia itu. Tap panglima mereka tetap tidak memerintahkan mereka untuk menyerang. Padahal ini kesempatan terakhir untuk menyerang sebelum tentara Rusia itu balik ke wilayahnya. Mereka tambah bingung lagi dengan sikap panglimanya. Tapi mereka yakin keputusan itu benar dan mereka ta’at untuk itu.

Akhirnya mereka melihat lebih banyak tentara Rusia melewati perbatasan itu. Barulah panglimanya itu memerintahkan untuk menyerang. Setelah terjadi peperangan sengit, akhirnya kemenangan milik pasukan Afghanistan. Setelah peperangan itu, barulah pasukan Afghanistan itu sadar bahwa keputusan panglimanya tepat. Ternyata satu mobilnya Rusia yang lewat itu hanya memastikan bahwa jalan itu aman, tidak ada tentara Afghanistan yang berjaga. Hingga pasukan Rusia yang lebih besar muncul. Itulah waktu yang tepat untuk menyerang. Inilah pertempuran yang mengawali kemenangan besar Afghanistan dari Rusia.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan tentang pentingnya ketsiqahan dan keta’atan kepada qiyadah itu. Cukup sudah kisah diatas menyadarkan kita karena menurut penulis/penyusun ketsiqahan dan keta’atan para jundi kepada qiyadahnya saat ini semakin tergerus. Kita bisa lihat akibatnya, terlalu banyak masalah di internal kita yang membuat produktivitas dakwah semakin berkurang. Semakin banyak barisan sakit hati dalam dakwah ini, yang mungkin tanpa mereka sadari bahwa merekalah yang menghambat perjalanan dakwah ini menuju kemenangan. Ayo kita saling menyadarkan saudaranya. Ayo istighfar bareng. Tingkatkan lagi kepahaman kita.

ALLOHUAKBAR…

Hendinurakbar
GFM47

Kamis, 16 Februari 2012

Wahai Para Da'i, Janganlah Kamu Membantu si Penumpah Darah dengan Lidahmu




Muhammad Ahmad ar-Rasyid*
(Tokoh Senior IM Irak)

Abu Ma'bad Abdullah bin 'Ukaim al-Juhani, seorang senior tabi'in mukhadhram (seorang yang hidup di masa Nabi Muhammad saw namun ia tidak pernah bertemu dengan beliau saw) mengungkapkan rasa kecewa, sesal dan sedih yang sangat mendalam setiap kali mengingat ucapan-ucapannya yang terlontar kepada 'Utsman bin 'Affan r.a.

Dia menasehati utsman dengan terang-terangan, ia mengira bahwa Utsman mempunyai keburukan-keburukan, -semoga Allah menjauhkan Utsman dari keburukan-keburukan itu- kemudian perkataan nasehat (kritik) Abdullah bin 'Ukaim ini disalahgunakan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan diri atau kelompok mereka (ashhab al-ahwa'), lalu menghalalkan darah Utsman dengan memperalat kata-kata yang dilontarkannya atau sejenis kata tersebut.

Mereka menumpahkan darah Islam,
bukan karena jahil dan bukan pula karena tersalah,
tapi mereka telah mengusahakannya dengan sengaja

Pada sebuah halaqah studi yang diadakan di Kota Medinah dalam rangka melatih dan memahamkan segala kesilapan dan kekhilafan yang terjadi setelah masa fitnah perang saudara tempo dulu, Abdullah bin 'Ukaim meyampaikan kuliahnya kepada para pejabat negara Islam dengan meringkas semua pengalaman para mukhlisin (mereka yang ikhlash), ia berkata:

لا اُعِيْنُ عَلَى دَمِ خَلِيْفَة اَبَدًا بَعْدَ عُثْمَانَ

"Saya tidak akan ikut membantu penumpahan darah seorang khalifahpun setelah masa Utsman selamanya".

Perkataan ini, jelas merupakan sesuatu yang mengejutkan dan menarik perhatian masyarakat terhadap lbnu 'Ukaim, karena semua orang tahu bahwa ia sama sekali tidak pernah ikut dalam peristiwa pembunuhan Khalifah 'Utsman.

Semua hadirin heran dan merenungkan pengakuan ini. Mereka saling pandang karena ucapan yang keluar dari lelaki saleh ini, apakah gerangan yang terjadi pada diri syaikh Mukmin yang tak bersalah ini, ia sama sekali tidak pernah mengangkat pedang di depan Utsman, tetapi ia menuduh dan menyesali dirinya atas suatu kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.

Lalu seorang laki-laki memberanikan diri bertanya kepada Ibnu 'Ukaim: "Wahai Abu Ma'bad, apakah benar Anda telah ikut membantu penumpahan darah Utsman?", Ibnu 'Ukaim menjawab:

اِنِّيْ لأرَى ذِكْرَ مَسَاوِئِ الرَّجُلِ عَوْناً عَلَى دَمِهِ

"Sesungguhnya aku meyakini bahwa menyebut keburukan seseorang sama dengan membantu menumpahkan darahnya".

Di sini, Abdullah bin 'Ukaim menuduh dirinya sendiri telah menumpahkan sebagian darah Utsman, karena ia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang disangkanya kebenaran itu telah dieksploitasi oleh masyarakat awam ketika ia mengucapkan hal itu, dia juga menyaksikan betapa besar pengaruh perkataannya dan bagaimana mereka mengembangkan dan memelintir perkataan tersebut sehingga mereka membunuh Khalifah 'Utsman bin 'Affan r.a.

Ungkapan seperti itu adalah sebuah ungkapan dari perasaan jiwa yang lurus dan ungkapan taubat yang keluar dari lidah Ibnu 'Ukaim, sedangkan ia tidak pernah membenci Utsman ketika mengucapkan ungkapan kritikan tersebut, tidak terbayang dalam pikirannya untuk berbuat sewenang-wenang terhadap Utsman karena anaknya pernah berkata: “Ayahku, semasa hidupnya mencintai Utsman”.

Hal ini berarti bahwa kritik yang diucapkan oleh Ibnu 'Ukaim tersebut diungkapkan dengan bahasa seorang pecinta dengan segala kelembutan dan kesopanannya, namun demikian hal itu mengakibatkan kerusakan yang tidak terduga.

Kejadian di atas adalah sebuah contoh kerusakan akibat kritik terbuka dengan bahasa yang baik. Bagaimanakah jadinya sekiranya kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang buruk dan kasar?

Sesungguhnya generasi baru da'wah Islam kontemporer -dalam masa mengkaji sebab akibat fitnah masa lalu- dituntut untuk memperhatikan dengan seksama hikmah dan pelajaran berharga lagi penting dari peristiwa Abdullah bin 'Ukaim dan ungkapan pengalamannya yang jujur di atas.

Janganlah bersikap sembrono wahai para da'i, sesungnya hal-hal semacam ini adalah hasutan finah di sekelilingmu untuk menumpahkan darah da’wah .

Awaslah dan perhatikanlah keburukan dirimu sendiri. Jagalah pendengaranmu. Sampaikanlah nasehat dan kritikanmu itu secara tertutup ... Janganlah kamu membantu penumpahan darah da’wah ini dengan lidahmu.


*)dikutip dari Kitab AL-'AWAA'IQ (Seri Fiqh Dakwah-Robbani Press)

Senin, 13 Februari 2012

Kisah Perjalanan Spiritual Ustadz PKS Mendapat 'Wahyu'



Al-kisah, ada seorang Ustadz muda, alumni Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta telah berhasil menyelesaikan S1-nya di LIPIA Jakarta. Beliau ini “putra mahkota” yang digadang-gadang bisa menjadi ulama penerus dakwah Muhammadiyah di kampung asalnya, di pinggiran Kota Surabaya. Beliau terlahir dari keluarga berada yang memiliki berbagai usaha tambak dan rumah kost-kostan mahasiswa dan mahasiswi warna-warni dari berbagai daerah.

Entah mengapa, selepas lulus LIPIA, Ustadz yang diduga keras (sekali lagi diduga keras....) keturunan “Sunan Ampel” ini belum berkenan pulang kampung. Beliau malah senang menetap di rumah kakaknya di Warungboto sambil masih terus mendalami ilmu agama dan berguru pada Ustadz Engkong Jogja. Padahal Emak dan keluarganya telah menyediakan rumah tersendiri di sebuah komplek masjid yang dikelilingi kost-kostan mahasiswa sehingga mirip kompleks pesantren di Surabaya. Orangtua sang Ustadz muda itu pun sudah berkali-kali memintanya pulang kampung untuk menjadi Ustadz di Surabaya dan sangat pengin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu.

Demi menanggapi permintaan orang tuanya untuk pulang kampung ke Surabaya, sang ustadz muda ini memiliki banyak “alibi” alias alasan logis bertubi-tubi, satu di antaranya masih ingin melanjutkan studi S2-nya di Jogyakarta. Untuk permasalahan yang satu ini, Alhamdulillah, orang tua dan saudara-saudaranya dapat memaklumi dengan lapang dada dan bahkan siap mendukung dana selebar-lebarnya.

Sedang, untuk menanggapi permintaan kedua, “ingin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu”, sang ustadz muda ini ceritanya bingung nggak karuan..., ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, beliau tak menemukan alasan yang kuat untuk menolaknya. Akhirnya, “theklek digawe dodolan burjo, tinimbang selak tuwek nggak dang oleh bojo” (theklek dipakai jualan burjo, dari pada tuwek/tua tak segera mendapat pasangan hidup), sang ustadz muda itu akhirnya bertekuk lutut dan menyerah.

Makanya, demi mengikuti sunnah Nabi dan birrul walidain, dengan bismillah, beliau menyerahkan biodatanya ke “BKKBS” (“Biro Kosultasi Keluarga Bahagia Sejahtera”) yang waktu itu masih menapaki fase sirriyah.

Sambil menanti biodata jawaban dari BKKBS sirriyah, Sang Ustadz muda ini pun melakoni amal spiritual secara inten. Beliau sering berpuasa (jika tidak ada acara kuliner), bermunajat panjang di tengah malam serta tak lupa sholat istikharah dan berdoa dengan sangat serius. Hampir tiada satu malam pun berlalu tanpa beliau munajat dan istikharah (nek nggak ketiduran lho....). Akhirnya, Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa-doanya. Suatu hari melalui murobbinya, Sang Ustadz muda ini mendapat biodata akhwat qowwi, Sarjana Farmasi, calon Apoteker lengkap dengan foto dirinya....


Hati Ustadz muda itu
jadi mekroh berbunga-bunga
Hati Sang ustadz muda ini jadi mekrok berbunga-bunga, seakan rembulan purnama jatuh bersinar cemerlang di pangkuannya. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal dan ini menyebabkan beliau agak “bimbang”. Ternyata, foto diri si akhwat tersebut foto ketika masih sekolah di SMP atau SMA. Jadi, kelihatan ijih cuuilik tenan. He he he. Piye to iki? Usut punya usut akhirnya, ada permohonan maaf dari sang murobbiyah akhwatnya. Foto itu sebenarnya sebuah langkah keterpaksaan, mengingat di jaman awalu tarbiyah, agar seorang murobbiyah mendapatkan foto diri dari akhwat binaannya itu sangat sulit. Mungkin waktu itu, apa-apa serba sirriyah, sehingga para akhwat sangat hati-hati dan primpen menyimpan foto dirinya.

Mengingat-ingat dan menimbang-nimbang akan menjadi garwo alias sigaraning nyawa (belahan jiwa alias pasangan hidup), calon istri memang harus ditimbang-timbang secara jeli. Untuk mengverifikasi calon istrinya itu tidak cukup hanya via biodata, Ustadz muda itu mencoba mengkonsultasikannya pada beberapa ustadz yang ia tsiqohi. Pun pula kepada teman-teman seliqo yang sekira mengetahui track record sang akhwat tersebut. Semuanya pada intinya mendukung calon berbobot yang diajukan oleh ummahat “BKKBS Sirriyah” itu.

Tak ketinggalan, Mas Sunan Kalicode yang waktu itu belum jadi sunan, masih baru saja melepas jabatannya sebagai Presiden Bujang Distrik Jogyakarta. “O, Allah Cak Ruf...., foto SMA tak masalah lah, yang penting kan sosoknya yang sekarang. Sudahlah Cak Ruf..., terima sajalah. Saya ikut jadi saksi sejak di Shalahuddin, beliau termasuk akhwat pelopor; cocok menjadi pendamping hidup seorang ustadz. Beliau juga pernah jadi juara pertama pengirim riset pembaca Seri Bacaan Muslimah, Ash-Sholihah tercepat lho....,” katanya untuk menambah rekomendasi kemantaban hati Sang Ustadz muda itu.

Atas dukungan semua ikhwah dan atas istikharah mendalam di malam-malam yang tenang, maka dengan bismillah, Sang Ustadz muda itu akhirnya mantab menerima akhwat tersebut. Tapi tidaklah lengkap bila belum dikonsultasikan kepada Emak dan cacak-cacaknya di Surabaya, maka pulanglah beliau ke Surabaya. Di hadapan sidang keluarga Surabaya, sang ustadz muda itu dengan mantab menceritakan bahwa dirinya sudah dapat calon istri yang aduhai. Tak lupa Beliau uraikan biodatanya dengan komplit-plit.

Ternyata, bagi keluarga besar Surabaya, biodata itu tidak penting, “Sing penting fotone calon mantuku endi Ruf....,” kata Emaknya. Agak ragu-ragu sang ustadz muda itu mununjukkan foto diri si calon mantu.... Saking penasarannya semua kakaknya yang lagi kumpul langsung ikut nimbung nonton bersama foto diri sang calon adik.

“O Allah, yok opo to Rek... Rek.... bocah ijih cuilik ngene koq arep mbok nikahi ki piye to Ruf? Opo ning Jogja ra onok cah wedhok sing wis gedhe po?" Komentar spontan cacak-cacaknya begitu lihat foto calon adiknya. Pokoknya, Surabaya waktu itu jadi geger. Bumi seakan bergoncang-goncang, langit seolah berkilat menjilat-jilat.

Tapi, Alhamdulillah itu terjadi hanya sebentar. Setelah dijelaskan dengan mantab oleh Sang ustadz bahwa itu foto ketika dia masih SMA. “Saiki bocahye yo wis gedhe, lha wong wis lulus Farmasi UGM je. Kabare saiki malah pitung puluh kali luwih uaaayu timbangane foto SMA-ne disik.... he he he...,” jelas sang ustadz muda yang ternyata sudah jatuh cinta sejak memandang biodatanya yang pertama itu. :D

Singkatnya, keluarga Surabaya akhirnya bisa diyakinkan dan setuju proses perjodohan itu ditindaklanjuti. Keluarga sang akhwat di Magelang yang masih memiliki ikatan darah keturunan HB VII itu pun akhirnya juga menyetujuinya. Gayung bersambut, di hari yang telah disepakati khitbah terjadi. Aqad nikah dan walimah pun telah ditentukan harinya.

Maka sejak aqad nikah diikrarkan, ustadz muda PKS yang bernama Ma`ruf Amary, Lc ini resmi mendapatkan “wahyu” dari Allah, lengkapnya mendapat “Wahyu Tusi Wardhani, S.Si.,Apt.” sebagai isterinya.

Jadi, begitulah kisah nyata perjalanan spiritual Ustadz Ma`ruf Amary mendapat wahyu, Wahyu Tusi Wardhani. Kini istrinya itu lebih dikenal dengan pangilan Bu Tusi, seorang apoteker, ustadzah penggerak dan pembina GEMI, Gerakan Ekonomi Masyarakat Islami di sepanjang bantaran Kali Gadjah Wong, Kota Yogyakarta.

Kini, ustadz yang pernah menjabat Ketua Dewan Syari'ah DPW PKS D.I. Yogyakarta ini hidup berbahagia bersama istri dan dua putri cantiknya di rumahnya: Warungboto UH IV/837, Umbulharjo, Yogyakarta. Saking bahagianya, kayaknya beliau sudah tidak ingat lagi biodata dan foto diri Bu Tusi di masa SMA itu. []

Oleh Sunan Kalicode
(aka Mohammad Ilyas Sunnah)

Sabtu, 21 Januari 2012

Bayan DPP DSP PKS

Bayan DPP DSP PKS, Smoga bermanfaat untuk antum semua, smoga ana bisa kembali memposting Bayan yang lain.

TETAP PARTAI DA’WAH WALAUPUN SERING DIFITNAH.

Banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini berulang kali dimunculkan barbarengan dengan perjuangan politik PKS melalui pemilu legislatif dan pilkada.

TETAP PARTAI DA’WAH, MESKI PKS TERUS DIFITNAH

Bayan Dewan Syari’ah Pusat Partai Keadilan Sejahtera
Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi rabbil alamin wasshalatu wassalamu ‘ala sayyidil mursalin, nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa ba’du..

Fenomena partai da’wah PKS dalam blantika perpolitikan nasional telah mengundang banyak hal. Ada ketercengangan, ada pertanyaan, ada pula kekhawatiran bahkan kecurigaan. Menghadapi laju PKS di ranah politik sekaligus ranah da’wah, berbagai pihak melakukan ragam cara. Bertambah banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini berulang kali dimunculkan barbarengan dengan perjuangan politik PKS melalui pemilu legislatif dan pilkada.

Kedustaan (iftira) dengan isu keagamaan itu berupa sebutan atau stempel yang sembarangan dan sama sekali mengabaikan perintah Islam untuk klarifikasi (tabayyun) baik dengan meruju dokumen-dokumen PKS maupun dengan menanyakan secara langsung kepada pihak yang berkompeten di PKS. Kedustaan yang terbaru dibuat oleh yang menamakan dirinya Tim Taushiyah dan Maklumat pada hari Ahad 22 Sya’ban 1429 H/24 Agustus 2008 di salah satu Pesantren. Kami tidak sampai hati menuliskan sembilan nama Kiyai sebagai tim perumus yang sejatinya mukarramun. Inti dari taushiyah tersebut meminta masyarakat khususnya kalangan tertentu dari kaum muslimin, agar mewaspadai gerakan Wahabisme yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang bertujuan menghilangkan syari’at dan tradisi Yasinan, Tahlilan, Qunut dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta tradisi lainnya yang suka dilakukan Ahlussunnah Waljama’ah.

Sebagai partai da’wah yang berfungsi memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, PKS harus menjelaskan siapa ia sebenarnya. Sesuai AD-ART partai, lembaga yang berkompeten menjelaskan pandangan dan sikap keagamaan PKS adalah Dewan Syari’ah. Sedangkan pandangan atau sikap keagamaan kader PKS secara individual tidak mencerminkan pandangan dan sikap partai. Berikut ini pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang beberapa masalah keagamaan yang telah dipolitisir.

1. PKS dan Ahlussunnah Wal Jama’ah
Sebagai partai dakwah PKS berpegang teguh kepada aqidah ahlussunnah waljamaah dengan sumber rujukan utama sebagaimana termaktub dalam Ittijah Fiqih Dewan syari’ah PKS, berupa Mashadir Asasiyah (sumber hukum primer) yang disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yaitu al-Qur’an, Sunnah yang suci, ijma’ dan qiyas.

2. PKS dan ’Wahabisme’
Tidak ada hubungan antara PKS dengan ’Wahabiyah’, yaitu gerakan yang dipimpin Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di negeri Hijaz yang bertujuan untuk memurnikan ’aqidah dari Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC), berkerja sama dengan Malik Abdul Aziz dan menggunakan berbagai cara dari yang sifatnya halus sampai yang radikal. Jelas tidak ada hubungan historis karena PKS lahir pasca reformasi 1998. Tidak ada hubungan struktural organisatoris antara PKS dengan organisasi keagamaan di Saudi Arabia meskipun di antara pimpinan PKS pernah studi di Saudi Arabia. Hal yang sama berlaku juga pada ormas Islam yang lain. Bahkan ada yang pendirinya pernah mukim di sana. Tapi tidak lantas ormas-ormas tersebut boleh dituduh sebagai pengusung ’Wahabiyah’.

3. Kolektivitas dan keberagaman di PKS
Sebagai partai da’wah yang berprinsip kejama’ahan, maka sifat kolektifitas menjadi ciri PKS yang mewadahi keberagaman, baik dalam rekruting kader maupun pandangan keagamaan dan politiknya.

Ketua Majelis Syura PKS KH. Hilmi Aminuddin alumni Universitas Islam Madinah, dekat dengan kalangan Persis.
Duta besar RI di Saudi Arabia Habib DR. Salim Segaf Al Jufri adalah seorang habib cucu pendiri Al Khairat dan salah seorang pendiri Partai Keadilan. Beberapa habaib yang lain fungsionaris PKS seperti Habib Abu Bakar Al Habsyi, Habib Nabil Al Musawwa, Habib Fahmi Alaydrus.
Presiden pertama Partai Keadilan DR. H. Ir. Nurmahmudi Ismail, MSc lulusan Amerika, berlatar belakang pesantren di Kediri yang kental ke NU-annya.
Presiden kedua Partai Keadilan dan PKS yang kini Ketua MPR RI DR. H. M. Hidayat Nurwahid, MA lulusan Universitas Islam Madinah, berlatar belakang Muhammadiyah.
Presiden PKS yang sekarang Ir. H. Tifatul Sembiring alumni sekolah tinggi teknik di Indonesia dan kursus manajemen politik di Pakistan punya latar belakang organisasi di PII.
Ketua MPP-nya Drs. H. Suharna Surapranata, MT lulusan UI dan Jepang berlatar belakang aktivis masjid kampus.
Ketua Dewan Syari’ah PKS KH. DR. Surahman Hidayat, MA tamatan universitas Al Azhar Mesir yang bermazhab Syafi’i, latar belakangnya NU dan PUI, sebelumnya PII dan HMI.
Beberapa anggota Dewan Syari’ah Pusat juga berlatar belakang NU seperti KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA murid kesayangan KH. Abdullah Faqih, Langitan. H. Bukhari Yusuf, MA, sekretaris DSP, murid kesayangan KH. Noer Ahmad S, ahli Ilmu Falak NU. H. Bakrun Syafi’i, MA alumni Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta adalah murid kesayangan KH Ali Ma’shum. H. Amang Syafruddin, Lc, Msi alumnus Pesantren NU Cipasung, Tasikmalaya yang sering dipuji sebagai murid nomor 1.
Beberapa ulama seperti Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, MS (ketua Baznas), DR. Ahzami Samiun, MA. (putra dari tokoh NU, KH. Samiun Jazuli), Prof. DR. Ahmad Syathori (alumni pesantren Babakan Ciwaringin dan Buntet), adalah tempat bertanya dan rujukan kader PKS.

4. Furu’iyah di PKS
Da’wah PKS menekankan pada tema-tema besar yang bersifat prinsip (qadhaya ushuliyah). Ini supaya da’wah PKS bersifat mempertemukan mempersatukan (jami’ah-tajmi’iyah) dan tidak menimbulkan perselisihan/perpecahan (tafriqiyah). Ittijah fiqh (orientasi fikih) Dewan Syari’ah PKS mendahulukan fiqh persatuan (i-tilaf) daripada fiqh perbedaan (ikhtilaf). Menggali dan mengambil faidah dari khazanah fiqhiyah yang ada dengan prinsip ”Almuhafazhatu ’alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” mengambil pendapat klasik yang masih cocok dan pendapat baru yang lebih maslahat. Tapi dalam praktik keseharian memperhatikan harmoni dengan mazhab yang banyak dipraktikan yaitu madzhab Syafi’i. Mengedepankan cara kompromi (thariqatul jam’i) atas tarjih, dan menggunakan prinsip keluar dari khilafiah (khuruj ’anil khilaf) sejauh dimungkinkan. Kemudian terhadap perbedaan dalam masalah cabang (furu’) mengedepankan sikap toleran (tasamuh). Prinsip yang dipegang ”NATA’AWANU FIMA ITTAFAQNA ’ALAIHI WA YA’DZURU BA’DHUNA BA’DHAN FIMA IKHTALAFNA FIHI” – Bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang diperselisihkan.

5. Sikap PKS dalam masalah khilafiyah
Berikut ini beberapa masalah khilafiah/furu’iyah yang sering dijadikan alat untuk memfitnah PKS dan pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang itu.

a. Do’a Qunut
Bagaimanapun do’a qunut status hukumnya sunat. Yang disepakati adalah do’a qunut dalam shalat witir, qunut nazilah dalam shalat fardhu yaitu memohon tolak bala dari kaum muslimin dan mendo’akan bencana bagi musuh Islam. Adapun qunut shubuh tetap saja merupakan masalah khilafiyah. Masalah pilihan, paling tinggi posisinya antara rajih dan marjuh, bukan antara sunnah dan bid’ah. Jadi tidak ada bid’ah dalam qunut shalat fajar. Dan mengamalkan yang marjuh bisa menjadi pilihan jika membawa kemaslahatan dalam mu’amalah. Jadi bukan sikap plinplan, tapi cerminan sikap bijak dan cerdas. Secerdas Imam Muhammad bin al Hasan al Syaibani murid Imam Abu Hanifah yang melakukan qunut ketika ziarah ke Mesir dan menjadi imam shalat shubuh. Ini karena beliau menghormati Imam Syafi’i -imam madzhab yang dominan di Mesir. Dan sebijak Imam Syafi’i yang tidak qunut shubuh ketika beliau ziarah ke Imam Muhammad di Baghdad.

Dalam pengamalan di acara-acara PKS kadang qunut shubuh kadang juga tidak, tergantung imamnya. Dan itu tidak pernah ada masalah.

b. Membaca do’a dan tahlil untuk yang meninggal
Pada dasarnya membaca do’a untuk mayit dianjurkan (sunat). Berkat ikatan ’aqidah tauhid tidak terputus hubungan sesama muslim dengan yang sudah mati sekalipun. Dalam al Quran ada do’a ”Rabbanagfirlana wa li-ikhwanina alladzina sabaquna bil imani, wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu.. rabbana innaka raufurrahim”. (QS 59: 10). Menghadiahkan bacaan Surah al Fatihah atau lainnya untuk mayit, atau mewaqafkan/menshadaqahkan sesuatu atas nama atau menujukan pahalanya untuk mayit merupakan amal shalih yang diterima, sesuai pendapat jumhur ulama. Istigfar, tasbih, tahmid dan tahlil merupakan bagian dari keseluruhan do’a yang dibaca. Waktu berdo’a untuk mayit tidak harus dibatasi pada waktu atau hari-hari tertentu, dan tidak boleh disyaratkan, sehingga pilihan waktunya lebih luang dan leluasa sesuai kesempatan atau kemampuan.

c. Perayaan maulid Nabi saw
Perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad saw menurut sebagian riwayat, digagas oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi di Mesir dalam rangka meningkatkan ruhul jihad umat Islam. Sampai hari ini Universitas Al Azhar sendiri mensyi’arkan peringatan maulid Nabi saw. Bagi kepala pemerintahan seperti Sultan Salahuddin, hal itu merupakan kebijakan yang sesuai syari’ah (siyasah syar’iyah), yang didefinisikan imam Ibnu Uqail sebagai perbuatan yang dilakukan karena lebih maslahat bagi masyarakat dan lebih menghindarkan mereka dari mafsadat, meskipun tidak pernah disabdakan atau dicontohkan oleh Nabi saw. Adapun bagi masyarakat muslim, peringatan maulid Nabi saw pertimbangannya adalah semata-mata kemaslahatan (mashlahah mursalah). Dasar pertimbangan maslahat ini juga yang menyeleksi ragam acara yang dipandang membawa maslahat. Tentu saja dalam konteks ini ada ruang bagi tradisi dan kreasi yang baik, sehingga ada variasi dari tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu yang lain. Jika dibarengi niat yang lillah, untuk meninggikan Dinullah dan tidak ada sesuatu yang melanggar syari’ah dalam mata acaranya, insya Allah bernilai ’ibadah.

Di lingkungan PKS, biasa diadakan peringatan maulid Nabi saw baik oleh DPP maupun struktur di bawah. Bahkan dianjurkan agar pelaksanaannya bekerjasama dengan masjid, lembaga keagamaan atau masyarakat sekitar. Para kepala pemerintahan kader PKS biasa memprakarsai atau mensponsori. Para da’i atau asatidz kader PKS biasa menjadi penceramah dalam peringatan ini.

d. Yasinan
Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa Surah Yasin merupakan qalbunya al Quran. Membacanya merupakan ’ibadah. Disepakati anjuran membacanya di samping orang yang sakit parah. Boleh dibaca untuk pengobatan dengan ruqyah syar’iyah. Boleh membacanya untuk yang sudah meninggal, menurut jumhur ulama. Sejauh ada pendapat yang membuka peluang ’amal, adalah tidak bijak menutupnya bagi siapa yang ingin melakukannya. Waktu membacanya luas, boleh siang apalagi malam dan pada waktu-waktu yang khidmat. Tidak perlu dibatasi pada waktu tertentu. Pertimbangannya adalah kesempatan dan kekhidmatan. Membiasakan acara membaca al Quran atau memilih surat-surat tertentu, insya Allah merupakan ’adah shalihah atau tradisi yang baik. Memilih surat tertentu untuk dilazimkan dibaca, bukan karena mensyaratkan atau membatasi, tapi karena lebih menyukainya atau lebih familiar, insya Allah merupakan kebajikan, semoga Allah mempertemukan pembacanya dengan surat yang dicintai.

Secara umum, merupakan kebijakan dalam da’wah PKS untuk menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan (ihyaul sunnah al mahjurah) dan tradisi Islami yang menyemarakkan syi’ar Islam sebagai cerminan ketaqwaan.

Melalui bayan ini kami serukan kepada segenap pencinta kebenaran dengan semangat iman dan keadaban, agar tidak termakan oleh fitnah dan hasutan baik lisan maupun melalui selebaran gelap yang menuduh PKS adalah Wahabi dan bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. ”Berbuat dusta dan menyebarkannya adalah dosa besar” (HR Bukhori).

Hasbunallah wani’mal wakil, wahuwal muwaffiq ila aqwamith thoriq

Jakarta, 21 Syawwal 1429 /21 Oktober 2008

Dewan Syari’ah Pusat
Partai Keadilan Sejahtera
KH. DR. Surahman Hidayat, MA
Ketua

sumber : pk-sejahtera.org

Taujih Ust Anis Matta (Silaturahim GOR Bandung)




Ada taujih dari Ust HM Anis Matta, Lc. Saya kultwitkan taujih dari beliau di twitter via Akun Saya @Indra_Kusumah. Berikut ini adalah taujih beliau:

Mengambil keputusan besar seperti pernikahan butuh keberanian. Kita butuh keberanian seperti itu #Taujih

Shalat, zakat dan haji adalah ibadah bil fi’li (melakukan sesuatu). Shaum itu ibadah bil kaffi (menahan diri/tdk melakukan sesuatu) #Taujih

Di Mekah dapat intimidasi, tapi perintahnya spy bertahan dan bersabar, di Madinah mulai diizinkan melakukan perlawanan #Taujih

Modal utama kita dalam membangun peradaban adalah al quwwah ar ruhiyyah (kekuatan spiritualitas) #Taujih

Ciri peradaban naik adalah aqlaniyyah (rasionalitas). Dengan rasionalitas, produktifitas lebih besar (minimal sama) dari sumber daya #Taujih

Ciri peradaban turun adalah syahwat dominan, maka dampaknya kehidupan hedonisme. Produktifitas lebih kecil dari sumber daya yg ada #Taujih

Saat kaum muslimin bangkit, saat itu mereka tdk punya apa2. Tapi dibantai tartar saat kaum muslimin memiliki semua sumber daya #Taujih

Dimanakah grafik peradaban islam? Peradaban islam sedang naik, peradaban yang lain sedang turun #Taujih

Kalau sekarang kita harus bekerja tanpa sumber daya yang cukup, ketahuilah itu indikator peradaban sedang naik #Taujih

Saat dakwah ini mulai tampil terbuka dalam bentuk hizb, kita tidak memiliki sumber daya yg banyak #Taujih

Sumber daya itu sekunder. Ia akan mengikuti ideologi. Ketika ideologi diikuti follower yg fanatik, maka sumber daya akan mengikuti #Taujih

Kita mulai dari nol membuat hizb dengan sumber daya yang terbatas. Alhamdulillah produktifitas luar biasa #Taujih

Jihad itu adalah manhajul hayat. Sebelum berupa perang, jihad itu adalah kerja keras, kemudian baru berkorban harta dan nyawa #Taujih

Yang penting adalah semua sumber daya (diri, harta, nyawa) kita kerahkan sehingga kita produktif. Itu juga jihad #Taujih

Jika DPR&Pemerintah buat UU wajib puasa 30 hari dalam 1 tahun. Kira2 akan diikuti gak? Enggak! Bgm kalau dijaga polisi setiap hari? #Taujih

Tapi kemarin ada 1,5 milyar orang puasa dg sukarela. Tidak ada yg kontrol. Intinya agama punya wibawa lebih besar dari wibawa negara #Taujih

Negara dari dulu datang& pergi. Agama dari dulu tumbuh terus. Saat Rasul hijrah dg 200 org muhajirin, 70 org Anshor, 85 di Etiophia #Taujih

Kini menurut data wikileaks, Jumlah muslim sekitar 1,9 milyar (sekitar 1/5 penduduk dunia). Diprediksi sebentar lg 1/4 dunia #Taujih

Rasulullah sudah wafat, tapi followernya nambah terus. Kalau twitter, mungkinkah nambah terus follower jika orangnya check out? #Taujih

Rasul brsabda Romawi Barat (Vatikan) &Romawi Timur (Konstantinopel) akan dikuasai kaum muslimin. Mana yg lebih dulu? Konstantinopel! #Taujih

Konstantinopel ditaklukkan sekitar 7-8 abad kemudian. Kini jarak waktunya sudah hampir sama utk takluknya yg satu lg #Taujih

Yusuf Qardhawi: “Kalau dulu Konstantinopel kita taklukkan dg pedang, insya Allah Roma akan takluk dg lisan dan pena kaum muslimin” #Taujih

Ahli ekonomi Amerika menyatakan bahwa kemunduran ekonomi penyebab utamanya demografi karena mereka zero growth. #Taujih

Sepuluh tahun lagi piramida demografi Indonesia akan ideal. Dan insya Allah itu sama dg usia pertumbuhan aktifis dakwah jamaah ini #Taujih

Agama& negara berbeda dalam mengelola manusia. Negara mendekati manusia dengan pendekatan mesin. Kalau agama yg yg dibangun manusianya #Taujih

Negara seperti membangun pagar dulu, rumahnya terserah seperti apa. Kalau agama, membangun rumah dulu (manusianya). #Taujih

Makanya ketika di Makkah tdk ada ayat2 hukum pemerintahan dll, umumnya ayat-ayat pembangunan akidah dan ibadah utk membangun manusia #Taujih

Kita semakin yakin bahwa ajaran agama yg kita dakwahkan ini sesuai dg isyarat kebangkitan sebuah peradaban #Taujih

Selama ini kita dibuat tegang brhubungan dg negara. Spt upacara detik2 proklamasi. Semua org Ind tegang, tapi dubes2 banyak yg foto2 #Taujih

Spt ada org yg datang utk ketemu Umar dg tegang krn Umar penakluk Romawi & Persia. Ternyata Umar sdg tidur di masjid tanpa pengawal #Taujih

Umar tidak menciptakan ketegangan dlm berhubungan dg negara, tapi dia melaksanakan tugas inti negara dg cara yg sederhana #Taujih

Negara dan keluarga bedanya cuma skala. Kalau keluarga anggotanya 10, negara anggotanya jutaan. Tapi inti pengelolaannya sama #Taujih

Mengelola negara itu masalah intinya pada self confidence. Bilal bin Rabbah mantan budak jadi Gubernur Syiria, berhasil! #Taujih

Baitul Mal baru ada zaman Umar ikuti Persia, krn zaman Rasul &Abu Bakar tiada saldo. Zaman Umar ada saldo, baru mikir bgm kelolanya #Taujih

Itu ilmu ketemu di jalan. Wattaqulloha yu’allimukumuLlah… Kalau kita tidak jalan dan bergerak, kita tidak akan dapat ilmu.. #Taujih

Ada satu masa ketika agama jalan tanpa negara. Ada juga suatu masa ketika negara jalan tanpa agama #Taujih

Negara itu blank spot yang bisa diisi oleh ideologi apa saja. Bisa kapitalis, sosialis, atau islam! #Taujih

Kata Ibnu khaldun, “Semakin banyak orang jahat, maka semakin diperlukan negara” #Taujih

Zaman Rasul dlm 10 thn hanya ada 1 kasus zina, itu jg eksekusi ditunda 2thn 9bln. Bgm dgn 65000 kasus di KPK. 170-an yg ditangani #Taujih

Masukkan mind-set jihad dlm diri apapun yg kita lakukan. Intinya adalah menghubungkan sumberdaya dg pencapaian tujuan kita #Taujih

Ketika kaum muslimin berhenti berjihad (dalam semua aspek kehidupan), pasti dia miskin :) #Taujih

Sumber: http://indrakusumah.multiply.com/

DPP PKS: TAUJIH MENYAMBUT RAMADHAN 1432 H



“HUDHUR AGAR ZHUHUR”

فَأَصْبَحُواظَاهِرِينَ

بسم الله الرحمن الرحيم

والحمد لله رب العالمين، والصلاة على رسوله محمد وعلى آله أجمعين

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ إِلْفٌ مَأْلُوفٌ، وَلَا خَيْرَ فِي مَنْ لَا يُأْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Dari Jabir –radhiyallahu anhu- Rasulullah SAW bersabda:”Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesamanya”. Musnad Asy Syihab Al Qudha’iy

Ikhwah fillah rahimakumullah

Menyambut bulan Ramadhan 1432 H marilah kita siapkan seluruh potensi dan daya kita untuk memaksimalkan bulan mulia itu dengan amaliyah yang mampu meningkatkan kualitas diri kita di hadapan Allah SWT, dan mampu meningkatkan posisi kita di tengah-tengah masyarakat.

Tampilnya ikhwah sebagai tokoh bagi umat ini adalah keniscayaan yang harus disadari oleh seluruh kader. Maka memanfaatkan momentum bulan Ramadhan ini DPP PKS menyerukan kepada seluruh kader untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Ikhwah fillah rahimakumullah

Ketokohan di masyarakat tidak akan datang tiba-tiba. Diperlukan proses panjang dan serius untuk menumbuhkannya sehingga mendapatkan pengakuan dari mereka. Secara umum menjadi tokoh masyarakat diperlukan beberapa syarat, antara lain:

1. Memiliki kemiripan atau kesamaan dengan mereka. Inilah yang bisa kita fahami dari beberapa ayat Allah yang menerangkan bahwa para rasul itu diutus dari suku bangsa mereka sendiri.

2. Memiliki keunggulan pada hal-hal yang dianggap sama atau yang menjadi identitas masyarakat itu.

3. Memiliki kongruensi (sama dan sebangun) dengan gambaran ideal pemimpin menurut masyarakat sekitar.

Dari itulah kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mampu menyesuaikan diri dengan kebaikan-kebaikan masyarakat di manapun kita berada

Ikhwah fillah rahimakumullah

Disamping itu, penokohan di masyarakat harus juga memperhatikan rambu-rambu agar dapat meminimalisir sisi negatif dalam proses ini. Proses yang bagus dan tanpa cacat saja masih mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat, apalagi jika penokohan tanpa dibarengi kearifan. Dari itulah usaha penokohan kader di dakwah di lingkungan harus juga memperhatikan hal-hal penting seperti:

1. Tidak menjadi ancaman bagi tokoh lain, sebisa mungkin menjadi perekat bagi masyarkat yang hiterogen

2. Selalu membina hubungan baik terutama dengan tokoh dan orang-orang yang dihormati di wilayah itu

Ikhwah fillah rahimakumullah

Alhamdulillah dakwah di Indonesia ini berada dalam lingkungan masyarakat muslim yang secara umum memiliki mazhahir tadayyun sya’biy bulan Ramadhan yang tidak bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai dakwah yang kita usung.

Mazhahir itu dapat kita kelompokkan seperti:

a. Mazhahir Ibadah

1. Shalat fardhu berjamaah.

Masyarakat muslim secara umum melaksanakan shalat fardhu di bulan Ramadhan dengan berjamaah di masjid maupun mushala di sekitar tempat tinggal, atau tempat kerja mereka. Pada point ini kader harus menjadi teladan terbaik dalam pelaksanaan shalat jamaah fardhu, dengan hadir lebih awal, serta mengajak anggota keluarga dengan catatan bahwa anak-anak yang dibawa tidak berpotensi mengganggu kekhusyukan jamaah.

2. Shalat Tarawih Berjamaah di masjid atau mushalla.

Masyarakat menganggap tarawih Ramadhan di masjid atau mushala adalah identitas keislaman yang sangat signifikan, maka kehadiran di jamaah itu sangat menentukan penerimaan atau penolakan terhadap keberadaan seseorang. Maka ditekankan kepada semua kader untuk melaksanakan shalat tarawaih berjamaah di masjid atau mushalla terdekatnya dengan mengabaikan khilaf fiqh dalam pelaksanaannya.

3. Mengikuti taushiyah/kultum di masjid/mushalla,

Bahwa pada bulan Ramadhan kaum muslimin di negeri ini sedang dalam kondisi siap menerima nilai-nilai, sedang meningkat semangat tadayyun mereka. Maka semua kader diharapkan berperan aktif dalam ini baik sebagai pemberi taushiyah atau menjadi pendengar, untuk menjadi teladan dan penyemangat bagi yang lain.

4. Mengikuti tadarrus Al Qur’an

Ramadhan dikenal sebagai syahrul Qur’an, budaya tadarrus Al Qur’an perlu disupport baik yang diselenggarakan di masjid, mushalla, atau rumah warga. Kader diharapkan berperan aktif dalam kegiatan ini.

5. Gemar Bersedekah.

Rasulullah SAW adalah seorang dermawan yang gemar bersedakah, dan di bulan Ramadhan ia lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Maka dianjurkan kepada seluruh kader untuk menyediakan anggaran khusus infaq terutama mengisi kotak infaq di masjid/mushala, dan membiasakan anak-anaknya untuk gemar bersedekah pula. Demikian juga bersedekah dengan berbagi ifthar/hidangan buka puasa kepada tetangga.

b. Adat (kebiasaan sehari-hari)

Kebersamaan dengan masyarakat sering diukur pula dengan kesamaan dalam berpakaian, tingkah laku, dan tutur kata.

Di bulan Ramadhan pada umumnya masyarakat menghendaki atmosfir lingkungan yang islami, seperti suara tilawah, dzikir, dsb.

Demikian pula adab berpakaian. Kader diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan budaya busana masyarakat yang dihormati. Misalnya memakai peci, jas, sorban bagi penceramah di lingkungan tertentu. Memakai baju koko, sarung dan berpeci bagi jamaah di lingkungan yang menganggapnya sebagai kebaikan. Dsb.

c. Nasyath (Kegiatan)

Ramadhan sebagai bulan amal, memberi peluang amal kebaikan sejak penyambutan sampai pelepasan.

Kader diharapkan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif menyambut Ramadhan seperti: Kerja bakti bersih-bersih masjid, mushalla, lingkungan tempat tinggal, pemeriksaan kesehatan menjelang Ramadhan, pawai menyambut Ramadhan, dsb.

Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ibadah sosial untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan seperti: Bazar, pembagian ta’jil, ifthor jama’i.

Menyelenggarakan rekruting dengan berbagai kegiatan, misalnya: pesantren kilat, yaum ma’al qur’an bersama dengan masyarakat, i’tikaf asyrul awakhir, dsb.

Menyelenggarakan silaturrahim idul fitri dengan berbagai lapisan masyarakat.

Demikian taujih ini disampaikan untuk menjadi perhatian bagi semua kader.

Semoga Allah memudahkan semua niat baik kita dalam berdakwah di jalan-Nya.

*Bidang Kaderisasi DPP PKS

TAUJIH KETUA DPP PKS BIDANG PEREMPUAN



ANIS BYARWATI, S.Ag, M.Si

Alhamdulillah, segala puji hanyalah untuk Allah SWT, Robb semesta Alam yang telah memberikan begitu banyak kenikmatan pada hamba-hambaNya. Shalawat dan ‎​salam tercurah pada kekasih Allah, Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya, dan generasi penerus dakwah yang tak gentar dengan tantangan dan ujian yang dihadapinya.

Pada kesempatan ini, ada baiknya kita memantapkan kembali langkah, niat, dan kerja kita semakin mantap, sehingga konstribusi kita sinergis dan bermanfaat. Kita meyakini bahwa apa yang dikerjakan oleh struktur Bidang Perempuan adalah persembahan amal terbaik kita di sisi Allah SWT.

Saudariku,

Kita harus ingat bahwa kita adalah kader gerakan dakwah. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa semua amal haruslah bernilai ibadah. Dan sebuah amal tidaklah bisa disebut sebagai ibadah jika amal itu tidak memenuhi syarat sebagai amal Islami. Dengan demikian, saudariku sekalian, apapun yang kita lakukan dalam struktur Bidang Perempuan, dari mulai merencanakan program hingga melaksanakannya haruslah bisa dikategorikan sebagai amal Islami. Kondisi itu, menuntut kita untuk melaksanakan seluruh kegiatan sedekat mungkin dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.



Selain itu, dalam beraktivitas kita harus memahami dan berkomitmen bahwa sejak awal seluruh aktivitas kita harus bebas dari kepentingan-kepentingan selain meraih ridho Allah. Hal ini bermakna bahwa kepentingan kita hanyalah satu, yaitu meraih ridho Allah. Kita harus all out dalam mengerjakan semua tanggung jawab dan amanah kita di Bidang Perempuan. Karena kita menginginkan di akhirat nanti Allah melihat amal-amal kita tidak ada yang tercemari dengan kepentingan lain kecuali meraih ridhoNya. Rasululah pernah bersabda tentang apa ituFiisabilillah kaitannya dengan jihad. Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy’ari yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam haditsnya, Rasulullah mendefinisikan fisabilillah, Beliau mengatakan, Barangsiapa berjihad, barangsiapa berperang agar kalimat Allah tetap tinggi , lillaahi kalimatillah, itulah fiisabilillah”.



Saudariku,

Tentunya kita ingin agar semua langkah kita dalam merealisasikan amanah di Bidang Perempuan ini diperhitungkan Allah sebagai fiisabilillah. Oleh karena itu, setiap melakukan kegiatan, baik dalam struktur Bidang Perempuan, ataupun dalam kegiatan yang lain, selalu kita hujamkan dalam diri kita bahwa ini tidak lain hanyalah untuk meraih ridho Allah. DO OUR BEST agar Allah berbangga dengan amal-amal kita.



Berkaitan dengan ini, Bidang Perempuan telah mencanangkan bahwa kita ikut serta dalam pembangunan karakter bangsa yaitu membangun karakter perempuan Indonesia menjadi SHOLIHAT, CERDAS, dan BERDAYA GUNA



SHOLIHAT adalah menyiapkan kader dan perempuan Indonesia agar mampu menjadi istri dan ibu yang sholihat. Arah SHOLIHAT itu adalah menjadi perempuan yang sholihat, menjadi istri, ibu, atau anak perempuan yang betul-betul mampu menjadikan rumahnya, suaminya, anaknya, keluarganya, keluarga besarnya, bahkan asisten rumah tangganya sebagai anak-anak panah dakwah yang siap untuk dilesatkan. Dan kerja-kerja seperti ini, di struktur Bidang Perempuan menjadi tugas dan tanggung jawab dari Departemen Ketahanan Keluarga.



Kemudian CERDAS, bermakna berwawasan luas. Yaitu menjadikan kader dan perempuan Indonesia memiliki pengetahuan luas, berwawasan global, dan universal. Perempuan Indonesia mampu mengokohkan nilai-nilai dalam setiap langkahnya, tidak mudah dibodohi, tidak mudah dirasuki oleh pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan dengan keyakinan-keyakinan religiusnya. Karakter cerdas ini menjadi fokus dan tugas dari Departemen Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga.



Karakter ketiga yang ingin kita bentuk adalah BERDAYA GUNA. Menjadikan perempuan PKS dan perempuan Indonesia mampu mengoptimalkan potensinya dan kokoh di setiap medan amal yang dipilih sesuai kemampuan, minat, kecenderungan, dan daya dukungnya. Dengan karakter ini Bidang Perempuan PKS mendorong perempuan Indonesia untuk berperan dan berkiprah di berbagai sektor, baik di sektor publik maupun di sektorprivate/swasta (wiraswasta, dan lainnya), atau di sektor ketiga (LSM, yayasan, dan lainnya). Khusus untuk kader perempuan PKS, Struktur Bidang Perempuan, mendorong kader perempuan PKS menyebar di seluruh sektor yang ada di lapisan masyarakat. Melalui dorongan ini diharapkan Insya Allah tidak ada satu ruang pun di masyarakat melainkan di sana ada kader perempuan PKS yang kokoh berkonstribusi. Dengan demikian, kader perempuan PKS dapat memilih perannya sesuai dengan daya dukungnya, kecenderungannya, atau amanah yang diberikan oleh struktur.



Terakhir saudariku sekalian,

Sesungguhnya, kerja-kerja yang ada kita lakukan ini adalah adalah manifestasi kita dari dua hal. Pertama, manifestasi dari rasa syukur kita pada Allah SWT dan kedua adalah manifestasi dari komitmen kita kepada dakwah. Demikian semoga bermanfaat. Semoga kerja-kerja kita mendapat apresiasi dari Allah, Rasululloh, dan orang-orang beriman. Billahi taufiq wal hidaayah, Wassalamu’alaikum warahmatu Llahi wa barakaatuh.


OASE

SYARIAH

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan